Berakhir Antiklimaks?
Ada beberapa kasus di tanah air yang cukup menyita berhatian publik tanah air. Salah satunya adalah kasus Nazaruddin. Entah bagaimana kasus suap proyek Wisma Atlet Sea Games di Palembang itu bisa terendus KPK, dengan menangkap Rosa Manulang. Yang akhirnya menyeret seorang Nazaruddin, yang adalah seorang bendahara Partai Besar.
Pada awalnya ada skenario untuk melokalisir sampai operator lapangan saja yang terkena. Ini nampak pada perubahan Rosa, yang berubah dari mengatakan ada hubungan dengan Nazaruddin menjadi mati-matian mengatakan bahwa dia tak mengenal Nazaruddin. Hingga mantan pengacaranya harus mati-matian menceritakan bahwa Nazaruddin terlibat.
Akhirnya bisa terbukti, Nazaruddin dan Rosa memang sudah biasa bekerja sama. Dan banyak sekali proyek negara yang dia kuasai. Partai Demokrat meradang, dari yang awalnya mati-matian melindungi, akhirnya memecat. Namun Nazaruddin berhasil kabur.
Sebagaimana kita tahu, dalam pelariannya, Nazaruddin banyak melontarkan tuduhan-tuduhan yang dialamatkan kepada beberapa anggota DPR dan juga kepada beberapa koleganya di Partai Demokrat bahkan beberapa orang ketua KPK. Yang paling membuat publik terperangah adalah tuduhannya kepada Anas Urbaningrum. Tuduhan Nazaruddin ini bahkan diperkuat oleh beberapa orang driver dan petugas pengawal uang tersebut.
Sekarang Nazaruddin sudah tertangkap dan ditahan. Namun yang ternyata dia tak berbicara sekeras pada saat buron. Kita belum tahu, apakah ini strategi yang dikembangkan oleh Nazaruddin sejak awal. Ataukah dia dalam tekanan. Atau ada deal-deal tersendiri dengan orang pihak-pihak yang berkepentingan dengan kasus ini. Biarlah waktu yang bisa menjawabnya.
Yang publik harus perhatikan, orang-orang seperti Nazaruddin, yaitu mafia-mafia anggaran di Republik Indonesia ini bukan hanya satu, tapi banyak sekali. Inilah salah satu penyebab kenapa Indonesia yang kaya raya ini tetap miskin.
















