Ironi Penegakan Keadilan di Indonesia

Entah bagaimana perasaanku ketika membaca kompas pagi ini. Di sana diceritakan seorang nenek yang harus ditahan dan dmeja hijaukan gara-gara memetik 3 buah kakao di perkebunan milik sebuah perusahaan, yang tak jauh dari kebun nenek tersebut. Karena buta huruf, nenek itu tidak bisa membaca peringatan yang terpasang di situ.

Ketika ketahuan mandor kebun tersebut, Mbah Minah, nama nenek tersebut, mengaku tidak tahu dan meminta maaf dan mengembalikan kakao tersebut. Namun pihak perusahaan tetap memilih memperkarakan Mbah Minah, sehingga ditahan dan diadili. Dia diperkarakan karena mengambil buah kakao tersebut senilai Rp. 30.000. Sementara jika dijualpun sebenarnya hanya 6.000 untuk 3 buah kakao

Dimanakah nurani para penegak hukum dan petinggi perusahaan tersebut? Sebandingkah ini semua dengan 30.000? Mungkin biaya makan mereka satu kali saja masih lebih besar daripada itu.

Di sisi lain, para pengemplang uang negara Milyaran rupiah, bisa mengatur segala perkara. Dan para Penegak hukum senang melayani mereka. Bahkan sudah jelas-jelas terungkap rekamannya, masih saja bebas tanpa ada tindakan apapun.

Sepertinya bangsa ini diberi pelajaran yang sungguh buruk yaitu, korupsilah yang banyak jangan mencuri yang kecil-kecil, nanti bagi-bagilah ke aparat, lalu berfoya-foya di negeri orang.

Masihkah di masa reformasi ini, kebobrokan di lembaga peradilan Indonesia masih sulit diperbaiki?

Sumber klik di sini

Share and Enjoy: These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google

Baca Juga

7 Responses to “Ironi Penegakan Keadilan di Indonesia”

  1. sungguh, sangat menyentuh kasus yang menimpa mbah minah, mas dewanto. sudah demikian lumpuhkah hukum di negeri ini sehingga sudah kehilangan akal sehat utk membela nilai2 keadilan dan kemananusiaan? ini yang bermasalah regulasinya atau orangnya?

    Henrikus TY Dewanto, SKom Reply:

    @sawali tuhusetya, memang pak, hukum selalu tegas pada yg kecil dan ga mampu nyuap hiks..

  2. miris dan ga bisa komen apa2 deh :-(

    Henrikus TY Dewanto, SKom Reply:

    @yudi, ya itu dah komen “miris..” :)

  3. saya juga barusan nulis ini… kasian sekali nenek Minah

    Henrikus TY Dewanto, SKom Reply:

    @imadewira, oh sama ya.. :)

  4. [...] contoh bagaimana rakyat kecil begitu tidak berdayanya di hadapan hukum kita. Prita, Aguswandi, Mbah Minah dan banyak lagi orang yang senasib. Sedang mereka yang nyata-nyata bergelimpang uang hasil korupsi, [...]

Leave a Reply