Presiden Datang = Belajar Mengajar Terganggu
Kebetulan jalan raya di depan kantor hari ini 13 Oktober 2008, akan dilewati Presiden SBY. Menurut rencana beliau akan meresmikan Batalyon Kesehatan AD di Malang. Kesibukan sudah kelihatan ketika aku berangkat ke kantor pagi ini. Sejak jam 7 pagi, polisi dan tentara sudah banyak berjajar di pinggir jalan untuk mengamankan. Beberapa kali juga lewat mobil pengawal dengan sirine meraung-raung.
Yang menarik perhatianku adalah, ketika beberapa truk lewat dengan penuh anak-anak berseragam putih biru dan putih merah. Entah mereka didatangkan dari mana. Yang jelas mereka semua diturunkan di sepanjang jalan yang akan dilewati Sang Presiden.
Tak peduli tepat di jalan yang ada peneduhnya atau pas di terik matahari, mereka harus berdiri berjajar sejak pukul 7 pagi tadi. Dan malangnya, hingga pukul 9.15, tamu VVIP tersebut belum juga datang.
Aku jadi berpikir, berapa waktu dalam kelas yang terbuang? Berapa materi pelajaran yang harusnya hari ini bisa mereka dapatkan? Apa hak mereka sebagai pelajar tidak terampas hanya karena agar Sang Tamu tersebut merasa kedatangannya disambut meriah?
Mungkin ini bukan ide dari Sang Tamu, mungkin ini datang dari sebagian orang lokal sendiri yang ingin namanya sekedar diingat oleh sang tamu. Budaya yang seharusnya sudah tak ada lagi di Bumi Pertiwi, “cari muka”. Kasihan anak-anak itu harus kepanasan tanpa diberi bekal. Haus pun mereka rogoh dari koceknya yang tentu saja tidak semua bawa uang saku.
Biarlah kita melakukan kegiatan kita sendiri-sendiri dengan sebaik-baiknya. Presiden melakukan tugas sebaik-baiknya, bupati pun demikian, yang karyawan bekerja sebaik-baiknya, serta anak-anak pun tugasnya adalah belajar sebaik-baiknya.

















Khan sudah menjadi tradisi sejak dulu.
Pancen sangat2 disayangkan pak.Saya tadi sempat berangkat juga kena macet…eh nggak tahunya dari akan ada arak2-kan Pak Presiden
itulah yang namanya presiden