Rp 206 Milyar Yang Sia-Sia
Wajar aku kira jika banyak yang menilai Pemilu kali ini paling kacau. Mulai dari distribusi logistik, pendaftaran yang kacau balau. Kali ini yang banyak disoroti tentang proses penghitungan berbasis IT, Pusat Tabulasi Nasional. Karena orang menganggap, dengan fasilitas ini, proses penghitungan suara yang masuk dari daerah, akan lebih cepat. Namun hingga 1 minggu suara yang masuk tidak lebih dari 10% nya. Bahkan ini sangat jauh dari target KPU sendiri. Sehingga hari ini pusat tabulasi nasional di hotel Borobudur ditutup. Padahal anggaran untuk IT ini adalah Rp 206M, untuk anggaran Tabulasi Nasional ini.
KPU masih berkelit, tabulasi nasional ini hanyalah untuk alat bantu, bukan hasil resmi pemilu. Rasanya sia-sia uang Rp 206 Milyar ini jika karena bukan hasil resmi kemudian digarap dengan asal-asalan. Kalau memang SDM dan infrastruktur belum mendukung ya tidak perlulah harus memaksakan diri dengan kecanggihan teknologi.
Disaat masih banyak yang berebut mendapat BLT 200rb hingga pingsan-pingsan, rasanya tidak adil melihat ratusan milyar disia-siakan seperti ini. Oh Indonesiaku. Dan Ibu Kartini pun melihat dengan berlinang air mata..

















klo udah begini siapa yg disalahin?
hasil penghitungan suara pemilihan anggota legislatif aja memble kayak gini, gmn nanti klo pilpres?
baru 13 juta suara, yaikss..
Kacau pool alias kacau balau kang..
mungkin masih kaget ..untuuk lebih dewasa dalam meoment demokrasi
Busyet… sampe Rp 206 milyar…? Mendingan buat rakyat miskin…